Rasionalisme #6

    Halo semuanya, kembali lagi bersama aku dinda. Ini merupakan pertemuan ke 6 aku belajar psikologi umum. Pada pertemuan ini aku akan membahas tentang "Rasionalisme". Nah seperti biasa sebelum materi dijelaskan oleh ibu aza, kita melakukan presentasi kelompok dulu. Berikut ini beberapa ulasan singkat materi minggu ke 6 :


Rasionalisme adalah suatu kaedah penyelidikan dan ujikaji yang menyatakan bahawa akal adalah sumber utama pengetahuan. Bertentangan dengan empirisme secara teorinya, ia menafikan pengalamaan pancaindera sebagai sumber pengetahuan. Konsep utama yang menjadi pegangan ini ialah kepercayaan terhadap kemampuan dan autoriti akal fikiran (alasan) untuk menyingkap ilmu dan kebenaran. Rasionalisme mengukur bahawa daya intelek yang wujud telah ada dalam diri manusia mampu mencari dan menanggapi kebenaran

Tokoh-tokoh rasionalisme :

1. Baroch Spinoza

    Tentang Pengetahuan Menurut Spinoza, ada tiga taraf pengetahuan, yaitu berturut-turut: taraf persepsi indrawi atau imajinasi, taraf refleksi yang mengarah pada prinsip-prinsip dan taraf intuisi. Hanya taraf kedua dan ketigalah yang dianggap pengetahuan sejati. Dengan ini, Spinoza menunjukkan pendiriannya sebagai seorang rasionalis. Pendiriannya dapat dijelaskan demikian, menurutnya sebuah idea berhubungan dengan ideatum atau obyek dan kesesuaian antara idea dan ideatuminilah yang disebut dengan kebenaran. Dia membedakan idea ke dalam dua macam, yaitu idea yang memiliki kebenaran intrinsik dan idea yang memiliki kebenaran ekstrinsik. Idea yang benar secara intrinsik menurutnya memiliki sifat memadai, sedangkan idea yang benar secara ekstrinsik disebutnya kurang memadai.


2. Von Leibniz

    Pemikiran Leibniz yang terkenal adalah monadologinya, dia berpendapat bahwa banyak sekali subtansi yang terdapat di dunia ini, yang disebutnya “monad” Monad ini semacam cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itu dengan caranya sendiri. Tiap-tiap pencerminan yang terbatas ini mengandung kemungkinan tidak terbatas karena dalam seluruhnya dapat diperkaya dan dipergandakan oleh sesuatu dari sesuatu yang mendahuluinya. Dalam rentetan ini ada tujuan yang terakhir, yaitu menuju yang tak terbatas sesungguhnya. Tuhan itu transendent, artinya Tuhan di luar makhluk, Tuhan merupakan dasar dari segala rentetan yang ada


3. Thomas Reid

    Reid memikirkan alasan itu diperlukan agar kita dapat mengendalikan emosi kita, selera, dan nafsu dan memahami dan melakukan kewajiban kita kepada Tuhan dan sesama manusia, Hume berpendapat bahwa karena semua yang kita bisa pengalaman adalah kesan indra, segala sesuatu yang kita mungkin bisa tahu harus didasarkan pada mereka saja. Untuk Hume kemudian, pengetahuan tentang hal-hal seperti Tuhan


4. Imanuel Kant

    Dia fokus pada analisis Hume tentang konsep sebab-akibat.Kant setuju dengan Hume bahwa konsep ini berkorelasitidak menanggapi apa pun dalam pengalaman. Dengan kata lain,tidak ada dalam pengalaman kami yang membuktikan bahwa satu halmenyebabkan yang lain.


5. Herbart 

    Herbart  menentang pendekatan physiological dan faculty terhadap pikiran. Ia beranggapan bahwa pikiran itu utuh, tidak dapat dipahami secara reduksionistik atau eksperimental, tetapi bisa dipahami secara matematis ( Physic  Mechanics ). Ia juga mengatakan bahwa ide itu seperti Monad, masing-masing memiliki kekuatan yang melekat pada dirinya sendiri, untuk menarik dan menolak ide lain tergantung pada kompatibilitasnya.


6. Hegel

    Hegel menyatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan tentang keterkaitan. Keterkaitan yang paling utama adalah Yang Mutlak atau Tuhan. Ia menambahkan bahwa semua input sensorik terfragmentasi, tidak nyata, dan  hanya sebagian kecil dari total keseluruhan yang terintegrasi (Absolute). Dialektika yang diperlukan untuk mencapai pengetahuan sejati

Comments

Popular posts from this blog

Psikologi Gestalt dan Kognitif #15

Behaviourisme #12