Psikologi Gestalt dan Kognitif #15

    Halo semuanya, kembali lagi bersama aku dinda. Gak terasa yah udah mau UAS aja hehe, perasaan baru kemaren aku nulis blog pertama aku yang judulnya "Penghantar dan Klarifikasi Bidang Psikologi" . Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Psikologi Umum I yang sudah mengajarkan kami dengan penuh kesabaran dan sangat baik. Dengan ini aku berharap telah menyelesaikan semua tugas mata kuliah aku di semester 1 khususnya Psikologi Umum I, dan bisa melanjutkan ke semester berikutnya dengan nilai yang terbaik.  

    Jadi ini merupakan pertemuan ke-15 aku belajar Psikologi Umum I. Pertemuan ke-15 ini merupakan pertemuan terakhir kita di semester 1. Nah jadi materi apa aja sih yang bakal dibahas? Pada pertemuan ini aku bakal mereview sedikit materi yang aku dapat pada minggu kemaren yaitu tentang "Psikologi Gestalt dan Kognitif". Selamat membaca!

PENCETUS PSIKOLOGI GESTALK

    Pencetus teori psikologi gestalt adalah Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh



  • Max Wertheimer,  lahir pada 15 April 1880 di Praha Jerman. Dulu beliau belajar dari Kuelpe, seorang tokoh aliran Wuerzburg. Jadi konsep yang penting adalah phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi).
  • Kutr Koffka, lahir pada tanggal 18 Maret 1886, di Berlin. Dia menerima gelar PdH-nya dari University of Berlin pada tahun 1909, dan seperti halnya Kohler, dia juga menjadi asisten di Frankfurt. Dia menulis buku “Grow of the Mind: An Introduction to Child Psikology” (1921). Pada tahun 1922, dia menulis sebuah artikel untuk Psikological.
  • Wolfgang kohler, lahir pada tanggal 21 Januari 1887, di Reval, Estonia. Tahun 1917, dia menulis buku paling terkenalnya, “Mentality of Apes”. Tahun 1922, Kohler menjadi ketua dan direktur laboraturium psikologi di University of Berlin, di mana Ia tinggal di sana sampai tahun 1935. Selama kurun waktu itu, pada tahun 1929, dia menulis “Gestalt Psikology”.

PERCEOTUAL CONSTANCIES DAN GESTALTEN

Perceptual Constancy adalah adalah kondisi yang sama. Kita akan mempresepsikan segala sesuatu yang ada di dunia ini dari berbagai jenis. Tapi dari sekian banyaknya jenis tetap akan terjadi kondisi persepsi yang sama dari hari ke hari. Jenis dari persepsi ini disebut Perceptual Constancy. Dalam perceptual constancies terbagi menjadi 4 karakteristik yaitu Karakteristik brightness, karakteristik color , dan karakteristik shape. 

  • Brightness Constancy, merupakan sebuah kecenderungan melihat suatu objek dari kecerahan objek tersebut. 
  • Color Constancy, merupakan kecendrungan untuk melihat kesetimbangan warna. 
  • Size Constancy, merupakan kecendrungan untuk melihat sebuah objek seperti ukuransama walaupun dilihat dari jarak yang berbeda.
  • Shape Constancy, merupakan kecenderungan melihat objek seperti tidak berubah walaupun dilihat dari sudut yang berbeda.

SYBJECTIVE DAN OBJECTIVE REALITY

Secara umum subjective reality ( kenyataan subjektif ) ialah sesuatu yang ada dalam pikiran seseorang atau sesuatu yang berkaitan dengan sudut pandang seseorang. Semua persepsi bergantung pada pikiran, jadi persepsi pada akhirnya bersifat subjektif.

Secara umum objective reality ( kenyataan objektif ) kontras terhadap subjektif. Kenyataan Objektif ialah sesuatu yang tidak dipengaruhi oleh sudut pandang pribadi seseorang atau tidak memihak.

Contoh :

Ada seseorang kritikus restoran, yang mungkin ada makanan tertentu yang secara subjektif atau pribadi tidak suka dengan makanan karena tidak sesuai selera nya. Tetapi dalam mengkritik hidangan dia harus mengesampingkan selera subjektifnya dan bersikap objektif terhadap apa yang dia makan. Membuat penilaian objektif tentang hal-hal seperti bagaimana masakan itu dimasak atau dibumbui dan bahan-bahan nya bekerja bersama. Bahkan jika dia disajikan hidangan yang secara subjektif tidak disukai, tugasnya hanyalah menilainya secara objektif.

Karena otak bertindak berdasarkan informasi sensorik dan mengaturnya ke dalam konfigurasi, apa yang kita sadari, dan oleh karena itu apa yang kita lakukan sesuai dengan pada saat tertentu, lebih merupakan produk otak daripada dunia fisik . Koffka menggunakan fakta ini untuk membedakan antara geografis dan lingkungan perilaku.Bagi dia, lingkungan geografis adalah lingkungan fisik, sedangkan lingkungan perilaku adalah interpretasi subyektif kita terhadap lingkungan geografis. Dengan kata lain, realitas subyektif kita mengatur tindakan kita lebih

PENJELASAN GESTALT TENTANG TEORI LEWIN

  • Teori Gestalt mendapat kritikan dari lewin karena dianggap kurang akurat.
  • Lewin cenderung menggunakan pendekatan Galilen mengenai fungsi kejiwaan.
  • Konsep utama lewin ialah Life Space.
  • Life space adalah tempat dimana individu berada dan bergerak.
  • Life space menentukan perilaku individu.
  • Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion.
  • Dalam life space terjadi daya (forces) yang menarik atau menjauhi individu dari tujuannya.

    Nah itu dia beberapa review singkat materi yang aku dapat di minggu kemaren. Karena ini pertemuan terakhir jujur sih sebenarnya antara senang atau sedih. Senang karna aku telah berhasil melewati tantangan di semester 1 ini, sedih karna waktu berjalan sangat cepat dan mungkin beberapa mimpi harus terkubur, but it's okay let it flow guys because god knows what's best for me hihi.

    Teruntuk yang membaca tulisan aku ini, aku sangat berterimakasih semoga ilmu yang aku dapat bisa bermanfaat juga bagi para pembaca. Karna kita disini sama-sama belajar aku sangat senang jika ada masukan dari pembaca, aku menyadari tulisan aku ini masih banyak kekurangannya. Maka dari itu aku minta tolong kepada pembaca untuk kritik dan saran agar aku bisa mengembangkan skill dalam menulis blog ini.


Don't be so hard on yourself, and see you in another chapter !

Comments

Popular posts from this blog

Behaviourisme #12

Rasionalisme #6