Empirisme, Sensasionalisme, dan Positivisme #5
Halo semuanya, kembali lagi bersama aku dinda. Ini merupakan pertemuan ke 5 aku belajar psikologi umum. Pada pertemuan ini aku akan membahas tentang "Empirisme, Sensasionalisme, dan Positivisme". Nah seperti biasa sebelum materi dijelaskan oleh ibu aza, kita melakukan presentasi kelompok dulu. Berikut ini beberapa ulasan singkat materi minggu ke 5 :
1.1 Empirisme
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yangberpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkankepada pengalaman yang menggunakan indera.
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yangberpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkankepada pengalaman yang menggunakan indera.
1. Ajaran-ajaran pokok Empirisme yaitu:
- Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan - menggabungkan apa yang dialami.
- Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio
- Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi
- Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
- Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
- Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan
2. Tokoh-Tokoh Empiricism
- Thomas Hobbes ( 1588-1679 )
- John Locke ( 1632-1704 )
- George Berkeley ( 1685-1753 )
- David Hume ( 1711-1776 )
- David Hartley ( 1705-1757 )
- James Mill ( 1773-1836 )
- John Stuart Mill ( 1806-1873 )
- Aleander Bain ( 1818-1903 )
1.2. Sensasionalisme
Secara etimologi, sensasionalisme berasal dari kata Latin sensatio yaitu merasa atau mencerap. Aliran ini merupakan salah satu bentuk dari empirisme yang menegaskan bahwa semua pengetahuan pada akhirnya diperoleh dengan cara sensasi-sensasi.
Secara etimologi, sensasionalisme berasal dari kata Latin sensatio yaitu merasa atau mencerap. Aliran ini merupakan salah satu bentuk dari empirisme yang menegaskan bahwa semua pengetahuan pada akhirnya diperoleh dengan cara sensasi-sensasi.
1. Tokoh-Tokoh Sensationalism
- Pierre Gassendi ( 1542-1655 )
- Julien De La Metterie ( 1709-1751 )
- Etienne Bannot De Condillac ( 1741-1780 )
- Claude Adries Heivetius ( 1715-1771 )
Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam "pencapaian kebenaran"-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi
1. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
- Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
- Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
- Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
- Auguste Comte ( 1798-1857 )
- Ernst Mach ( 1838-1916 )
Sampai ketemu di materi ke-5, see you
Comments
Post a Comment